google

Memuat...

ikan

hidayah

  • hendrasihotang@yahoo.com
  • putrisusilo@yahoo.com
  • ziaulhaq-elhi.blogspot.com/

hiadayh

Loading...

Senin, 18 Oktober 2010

memelihara silaturrahim

BAB I
PENDAHULUAN

Motivasi merupakan suatu proses untuk menggiatkan motif-motif menjadi suatu perbuatan atau tingkah laku untuk memenuhi suatu kebutuhan dalam mencapai satu tujuan. Motivasi sangatlah kita butuhkan dalam kehidupan sehari-hari. Karena, tanpa ada motivasi tentu saja kehidupan kita tidaklah maju seperti sekarang ini. Motivasi merupakan upaya memelihara semangat dalam diri. Motivasi juga merupakan sebagai pendorong dan perangsang untuk melakukan suatu kegiatan atau tugasnya dengan rasa kesadaran. Dengan demikian kita dapat melakukan kegiatan untuk meningkatkan kegairahan, disiplin, kesejahteraan, prestasi, moral kerja, tanggung jawab terhadap tugas-tugas yang dibebankan kepada kita.
Emosi merupakan suatu keadaan kerohanian atau peristiwa kejiwaan yang kita alami dengan senang atau tidak senang dalam hubungan dengan peristiwa mengenal dan bersifat subyektif. Dalam kehidupan sehari-hari kita sebagai manusia tidak luput dari perasaan emosi. Perasaabn sangatlah erat hubungannya dengan pribadi seseorang dan berhubungan pula dengan gejala-gejala jiwa kita yang lainnya. Oleh sebab itu, tanggapan perasaan seseorang terhadap sesuatu tidak sama dengan tanggapan perasaan orang lain terhadap hal yang sama. Ini terjadi karena perasaan orang menangapi sesuatu tidaklah sama.







BAB II
PEMBAHASAN
MOTIVASI DAN EMOSI
A. Motivasi
1. Defenisi Motivasi
Kata motivasi berasal dari bahasa latin “ movere “ yang berarti “ bergerak “ yang dimaksudkan sebagai “bergerak untuk maju “. Motivasi dalam konteks organisasi dijelaskan Hasibuan ( 1991 : 183 ) : sebagai suatu keahlian dalam mengarahkan pegawai dan organisasi agar mau bekerja secara berhasil, sehingga tercapai keinginan para pegawai sekaligus tercapainya tujuan organisasi.
Siagian ( 1980 : 128 ) mengartikan motivasi sebagai keseluruhan proses pemberian motif bekerja kepada bawahan sedemkikian rupa sehingga mereka mau bekerja dengan ikhlas demi tercapainya tujuan organisasi dengan efesien dan ekonomis.
2. Beberapa Perspektif Motivasi
Dalam masalah motivasi ada istilah yang hampir sama (identik) pengepresiannya yaitu Motivasi devrives,needs. Menurut Filmore, Sanforel, Motivasi akar katanya adalah motif, sehingga motivasi diartikan sebagai berikut :
Motivasi yaitu suatu kondisi ( kekuatan / dorongan ) yang menggerakkan organisasi
( individu ) untuk mencapai suatu tujuan atau beberapa tujuan dari tingkat tertentu, atau dengan kata lain motif itu yang menyebabkan timbulnya semacam kekuatan agar individu itu berbuat, bertindak atau bertingkahlaku.
Drives memiliki arti motivasi sebagai dorongan yang berhubungan dengan kebutuhan dasar yang bersifat biologis seperti makan, minum ,bernafas dll. Sedangkan needs adalah dorongan yang berhubungan dengan kebutuhan biologis apabila individu merasa adanya kekurangan . misalnya kebutuhan individu terhadap kalori.
Sidmund Freud seorang sarjana psikologis mengartikan motivasi berdasarkan instink. Menurut Freud, seseorang bertingkahlaku menurut dua macam dorongan, yaitu dorongan instink untuk hidup dan dorongan untuk mati. Dorongan instnik yang hidup mendorongnya untuk mencintai dan menciptakan, sedangkan dorongan instink untuk mati, untuk membenci dan menghancurkan.
3. Teori-Teori Motivasi
a. Teori Evolusi

Evolusi (dalam kajian biologi) berarti perubahan pada sifat-sifat terwariskan suatu populasi organisme dari satu generasi ke generasi berikutnya. Perubahan-perubahan ini disebabkan oleh kombinasi tiga proses utama: variasi, reproduksi, dan seleksi. Sifat-sifat yang menjadi dasar evolusi ini dibawa oleh gen yang diwariskan kepada keturunan suatu makhluk hidup dan menjadi bervariasi dalam suatu populasi. Ketika organisme bereproduksi, keturunannya akan mempunyai sifat-sifat yang baru. Sifat baru dapat diperoleh dari perubahan gen akibat mutasi ataupun transfer gen antar populasi dan antar spesies. Pada spesies yang bereproduksi secara seksual, kombinasi gen yang baru juga dihasilkan oleh rekombinasi genetika, yang dapat meningkatkan variasi antara organisme. Evolusi terjadi ketika perbedaan-perbedaan terwariskan ini menjadi lebih umum atau langka dalam suatu populasi.

Evolusi didorong oleh dua mekanisme utama, yaitu seleksi alam dan hanyutan genetik. Seleksi alam merupakan sebuah proses yang menyebabkan sifat terwaris yang berguna untuk keberlangsungan hidup dan reproduksi organisme menjadi lebih umum dalam suatu populasi - dan sebaliknya, sifat yang merugikan menjadi lebih berkurang. Hal ini terjadi karena individu dengan sifat-sifat yang menguntungkan lebih berpeluang besar bereproduksi, sehingga lebih banyak individu pada generasi selanjutnya yang mewarisi sifat-sifat yang menguntungkan ini. Setelah beberapa generasi, adaptasi terjadi melalui kombinasi perubahan kecil sifat yang terjadi secara terus menerus dan acak ini dengan seleksi alam. Sementara itu, hanyutan genetik (Bahasa Inggris: Genetic Drift) merupakan sebuah proses bebas yang menghasilkan perubahan acak pada frekuensi sifat suatu populasi. Hanyutan genetik dihasilkan oleh probabilitas apakah suatu sifat akan diwariskan ketika suatu individu bertahan hidup dan bereproduksi.
Walaupun perubahan yang dihasilkan oleh hanyutan dan seleksi alam kecil, perubahan ini akan berakumulasi dan menyebabkan perubahan yang substansial pada organisme. Proses ini mencapai puncaknya dengan menghasilkan spesies yang baru.[4] Dan sebenarnya, kemiripan antara organisme yang satu dengan organisme yang lain mensugestikan bahwa semua spesies yang kita kenal berasal dari nenek moyang yang sama melalui proses divergen yang terjadi secara perlahan ini.
Dokumentasi fakta-fakta terjadinya evolusi dilakukan oleh cabang biologi yang dinamakan biologi evolusioner. Cabang ini juga mengembangkan dan menguji teori-teori yang menjelaskan penyebab evolusi. Kajian catatan fosil dan keanekaragaman hayati organisme-organisme hidup telah meyakinkan para ilmuwan pada pertengahan abad ke-19 bahwa spesies berubah dari waktu ke waktu.
Namun, mekanisme yang mendorong perubahan ini tetap tidaklah jelas sampai pada publikasi tahun 1859 oleh Charles Darwin, On the Origin of Species yang menjelaskan dengan detail teori evolusi melalui seleksi alam. Karya Darwin dengan segera diikuti oleh penerimaan teori evolusi dalam komunitas ilmiah. Pada tahun 1930, teori seleksi alam Darwin digabungkan dengan teori pewarisan Mendel, membentuk sintesis evolusi modern, yang menghubungkan satuan evolusi (gen) dengan mekanisme evolusi (seleksi alam). Kekuatan penjelasan dan prediksi teori ini mendorong riset yang secara terus menerus menimbulkan pertanyaan baru, di mana hal ini telah menjadi prinsip pusat biologi modern yang memberikan penjelasan secara lebih menyeluruh tentang keanekaragaman hayati di bumi.
Meskipun teori evolusi selalu diasosiasikan dengan Charles Darwin, namun sebenarnya biologi evolusioner telah berakar sejak zaman Aristoteles. Namun demikian, Darwin adalah ilmuwan pertama yang mencetuskan teori evolusi yang telah banyak terbukti mapan menghadapi pengujian ilmiah. Sampai saat ini, teori Darwin mengenai evolusi yang terjadi karena seleksi alam dianggap oleh mayoritas komunitas sains sebagai teori terbaik dalam menjelaskan peristiwa evolusi.
b. Teori Instink
Instink adalah suatu disposisi ( kecenderungan ) yang ditentukan secara genetis untuk berprilaku dengan cara tertentu bila dihadapkan pada rangsang-rangsang tertentu. Teori instink banyak dipengaruhi oleh teori evolusi Charles Darwin ( 1809-1882 ) dan teori prilaku dari William James ( 1842-1910 ). William James beranggapan bahwa sebagian besar prilaku manusia ditentukan oleh instink. Ia bahkan berpendapat bahwa prilaku yang dibawa sejak lahir ( inborn behavior ) pada manusia lebih banyak dari pada binatang.
Teori instink pada tahun 1880 William James mengemukakan teori tentang hubungan antara stimulus emosional dengan responnya. Menurut James responnya itu bersifat instinktif perasaan, sensasi dan tingkah laku emosional itu merupakan reaksi-reaksi bawah terhadap stimulus tertentu. James mengumpulkan daftar stimulus yang terjadi membangkitkan emosi. Takut misalnya: dianggap sebagai reaksi bawaan terhadap suara-suara gaduh, orang-orang yang belum dikenal, binatang-binatang asing, sendirian, gelap dan tempat-tempat yang tinggi.
Teori instink pertama kali dikemukakan oleh William MC Dougall ( 1871-1938 ) yang membagi instink manusia menjadi sepuluh, lalu dirinci lagi menjadi 18. Meskipun demikian, tidak berarti teori motivasi yang mendasarkan diri pada instink lalu menjadi pupus. Akhir-akhir ini banyak study yang dilakukan oleh etholog ( ahli prilaku binatang ) , seperti Konrad Lorenz ( 1903 ) yang terkenal dengan bukunya On Agression, menunjukkan bahwa prilaku manusia, seperti prilku binatang, masih menunjukkan adanya pengaruh prilaku yang dibawa sejak lahir ( mereka manyebutnya fixed-action pattern ). Prilaku agresif misallnya pada manusia pun menunjukkan adanya pengaruh pola-pola prilaku yang sudah ditetapkan sejak lahir.
Reflex adalah respon yang otomatis, tidak dipelajari dan bersifat muskuler. Reflex biasanya terdiri dari gerakan-gerakan untuk melindungi badan terhadap luka. Dengan bekal reflex ini pula binatang dapat tetap hidup.
c. Teori Genetik





d. Teori Homeostatis
Homeostatis dapat didefenisikan sebagai proses suatu keadaan internal yang konstan tersusun dalam organisme. Contoh, berkeringat merupakan bagian mekanisme yang cenderung memantapkan suatu tingkat oksigen dan karbondioksida yang tetap dilarutan darah.
Tingkah laku dapat digolongkan sebagai homeostatic hanya jika pengaruhnya adalah menteraturkan ling internal membetulkan penyimpanan dari sejumlah level titik nol / normal dan tingkah laku seksual sejauh kita ketahui tidaklah demikian halnya. Proses-proses homeostatic merupakan sesuatu yang memelihara internal environment. Hal-hal itu meliputi bernafas, berkeringat / menggigil, makan dan minum.
Dengan demikian, motivasi mungkin saja secara biologis, primitive dan amat bertenaga kuat tanpa harus berwujud homeostatic.
Homeo statis terdiri dari dua teori yakni teori Drive dan teori Arousal:
• Teori Drive
Teori drive didasarkan atas determinan-determinan yang sifatnya biologis. Teori ini dipelopori oleh Clark Leonard Hull ( 1884-1925 ) berpendapat bahwa bila tubuh organism kekurangan zat tertentu seperti, lapar dan haus maka akan timbul sesuatu kebutuhan yang mnciptakan ketegangan dalam tubuh ( tension ). Ketegangan ini berupa aktivitas neural (eksitasi) yang meningkat,makin hebat bila kebutuhan tidak segera dipenuhi. Keadaan ini akan mendorong (driving state ). Organisme untuk menghilangkan ketegangan ,atau mengembalikan keseimbangan dalanm tubuh. Keadaan keseimbangan itu disebut homeo statis,yaitu keadaan tampa ketegangan. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa organisme bertindak /berprilaku tidak semata-semata untuk mencapai homeo statis. Misalnya karena tingkah laku itu menghasilkan pengalaman yang menyenangkan atau karena organisme memang berprilaku untuk mencari ketegangan ( ngebut,nonton flim horor dll ).
• Teori Arousal
Teori Arousal yang pelopori oleh Elizabeth Duffy dan kawan-kawan mempunyai pendapat tentang Homeostatis yang berneda dari teori Drive. Menurut mereka, organisme tidak selalu berusaha menghilangkan ketegangan, tetapi justru sebaliknya organism sering kali berusaha meningkatkan ketegangan dalam dirinya. Homeostatis menurut teori ini adalah sustu keadaan tegangan optimum, yaitu tidak terlalu rendah atau terlalu tinggi.

e. Perspektif Kognitif
Apabila perkembangan teori motivasi disimak dengan teliti akan terlihat bahwa para ilmuan yang mendalami motivasi menggunakan asumsi bahwa faktor-faktor motivasional yang bersifat ekstrinsik tidak mempengaruhi faktor-faktor motivasi instrinsik.
Akan tetapi pada tahun 80-an berlangsung berbagai penelitian yang menghasilkan pendapat ( teori ) bahwa anggapan yang berlaku pada waktu itu dirasakan tidak benar. Artinya, penemuan dari berbagai hasil penelitian itu mengatakan bahwa ada hubungan antara faktor-faktor motivasional yang instrinsik dengan faktor-faktor yang bersifat ekstrinsik. Teori ini dikanal dengan istilah “ Evolusi Kognitif “.
Salah seorang pelopor yang mendalami teori motivasi adalah Abraham H. maslow yang berkarya sebagai ilmuan dan melakukan usahanya pada pertengahan dasawarsa 40-an. Keseluruhan teori motivasi yang dikembangkan oleh moslow berintikan pendapat yang mengatakan bahwa kebutuhan manusia itu dapat diklasifikasikan pada 3 kebutuhan yaitu :
 Kebutuhan Fisiologis
Perwujudan paling nyata dari kebutuhan fisiologis aialah kebutuhan pokok manusia seperti sandang, pangan da perumahan. Kebutuhan ini dipandang sebagai kebutuhan yang paling mendasar bukan saja karena setiap orang membutuhkannya terus menerus sejak lahir hingga ajalnya.
 Kebutuhan Akan keamanan
Kebutuhan akan kemanan harus dilihat dalam arti luas, tidak hanya dalam arti keamanan fisik, meskipin hal ini merupakan aspek yang sangat penting, akan tetapi kemanan yang bersifatpsikologis, termasuk perlakuan adil dalam pekerjaan seseorang, misalnya keseimbangan kejiwaan seseorang akan terganggu apabila dia ditegur oleh atasannya dihadapan orang banyak, sehingga dia mengakibatkannya “ kehilangan muka “.
 Kebutuhan Sosial
Kebutuhan sosial tercermin dalam 4 bentuk perasaan :
 Perasaan diterima oleh orang laindengan siapa ia bergauldan berinteraksi dalam berorganisasi.
 Harus diterima sebagai kenyataan bahwa setiap orang mempunyai jati diri yang khas dengan sangat berlebihan dan kekurangan.
 Kebutuhan akan perasaan maju.
Dapat dinyatakan secara kategorial bahwa pada umumnya manusia tidak senang apabila menghadapi kegagalan.
 Kebutuhan akan diikut sertakan.
 Klasifikasi Kebutuhan Manusia
Pemahaman yang tepat tentang motivasi dikaitkan dengan pemuasan kebutuhan manusia menjadi lebih sukar dan rumit karena paling empat alasan yaitu :
 Dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang demikian pesat, termasuk ilmu-ilmu sosial dan humaniora.
 Dalam tindak tanduknya, manusia tidak selalu menunjukkan prilaku yang konsisten, bukan hanya karena faktor – faktor lingkungan yang selalu berubah, akan tetapi karena reaksi seseorang terhadap situasi tertentu bisa berbeda dari satu saat ke saat yang lain.
 Hubungan antara Variabel – Variabel motif yaitu kebutuhan dorongan dan tujuan bukanlah hubungan yang sederhana karena intensitas hubungan itu berbeda antara seseorang dengan orang yamg lain.
 Ternyata kebutuhan manusia merupakan hal yang sangat kompleks sehingga tidak selalu mudah menganalisisnya.

f. Perspektif Sikodinamik dan Humanistik

4. Motivasi Sosial
a. Faktor-faktor Motivasi
Faktor-faktor yang ada dalam motivasi dijelaskan Sukarna ( 1977:53 ) sebagai berikut:
• Kebutuhan-kebutuhan manusia ( human want’s )
• Kebutuhan hubungan ( communications )
• Kepemimpinan ( leadership )
• Perangsang ( respond )
• Sikap dan semangat
• Disiplin

b. Motivasi Berprestasi
Konsep ini mula-mula dikemukakan oleh Henry Murray ( 1893 ) dalam bukunya Eksplorations in Personality. Beliau membagi kebutuhan-kebutuhan manusia ke dalam manusia ke dalam 17 kategori. Di antara adalah kebutuhan untuk berprestasi.
Kebutuhan berprestasi tercermin dari prilaku individu yang selalu mengarah pada suatu standar keunggulan. Orang seperti ini menyukai tugas-tugas yang menantang, tanggung jawab pribadi, dan terbuka untuk umpan balik guna memperbaiki berprestasi inovatif-kreatifnya.


B. EMOSI
1. Defenisi Emosi
Defenisi emosi itu bermacam-macam, seperti “ keadaan bergejolak dan gangguan keseimbangan “. Respon kuat tak beraturan terhadap stimulus. Ada satu hal yang sama yaitu bahwa setiap defenisi tersebut keadaan emosional itu menunjukkan penyimpangan dari keadaan yang normal. Keadaan yang normal adalah keadaan yang tenang atau keadaan seimbang fisik dan sosial.
Dalam usaha memberikan gambaran, pengertian emosi dikemukakan beberapa ciri-ciri penting, yaitu:
a. Suatu keadaan yang muncul dari organisme individu.
b. Meliputi perubahan fisiologis, gerak-gerik, dll.
c. Ditimbulkan oleh suatu pengalamanan sadar yang mempengaruhi kegiatan jasmani menghasilkan penginderaan organis yang Nampak.
d. Mengandung suasana perasaan yang kuat.
Jadi, dapat disimpulkan dari berbagai cirinya, emosi adalah pengalaman sadar organisme terhadap rangsang-rangsang yang kompleks dan efektif ( mempunyai arti pribadi bagi dan meliputi unsur-unsur perasaan ) dan mengekspresikan diri dalam tingkah laku menampak.
2. Hakikat Emosi
Pada hakikatnya emosi ( emotion ) tidak terhitung banyaknya : kegembiraan, kesedihan, keriangan, cinta, benci, marah, takut, cemas, kesemuanya barulah sebagian kecil dan masing-masing dapat dialami dalam taraf yang berbeda-beda, sejak dari yang ringan hingga yang extreme. Ada yang dikatakan sebgai yang positif dan negative dan hamper semua orang mencari perasaan emosional yang positif serta berusaha menolak perasaan yang negative.
3. Teori-Teori Emosi
 Teori Mandler
Mandler menjelaskan bahwa emosi terjadi pada saat sesuatu yang tidak diharapkan atau pada saat kita mendapat rintangan didalam mencapai sesuatu tujuan tertentu. Ia menamakannya sebagai teori interupsif. Adalah interupsi pada saat permasalahan seperti inilah yang menyebabkan kebangkitan mengalami pengalaman emosional. Sistem saraf autonomic pada beberapa orang lebih responsip terhadap interupsi. Keuntungan dari adanya kebangkitan pada orang diartikan bahwa orang dapat memperlihatkan perubahan emosi secara extreme, misalnya bergembira dan bergairah.

Bagaimana kita merasakan emosi.







Mandler mnegemukakan bahwa, kita mendapat motivasi untuk mencapai apa yang dikatakannya sebagai dorongan keinginan autonomic ( autonomic jag ). Dan ini merupakan satu faktor yang membuat kita berubah dari satu aktivitas ke aktivitas yang lain. Hamper semua orang dapat menerima berbagai dorongan keinginan autonomic dari interaksi sosial sehari-hari namun beberapa orang lainnya seperti tidak responsive sistem saraf. Autonomiknya sehingga hanya dapat dinmunculkan keinginannya. Apabila mereka ditempatkan pada kedudukan yang sangat membahayakan. Orang-orang ini rupanya berperangai sangat tenang dan dikuasai oleh emosi, kiranya tidak ada sesuatupun yang dapat mengganggu mereka, namun mereka mungkin akan memperlihatkan perbuatan-perbuatan yang benar-benar sangat kejam kalau menerima dorongan keinginan autonomic yang bertaraf sama dengan yang kita terima. Sekalipun dorongan keinginan tersebut bagi kita tidak dipermasalahkan. Orang-orang tersebut terkadang disebut psikopat (psychopath ) atau sisiopat ( sociopath ), kelihatannya tidak merasa bersalah berbuat seperti itu.

 Teori-Teori Emosi Secara Historis
Secara historis terdapat berbagai teori yang saling bertentangan mengenai peranan sistem saraf autonomic didalam emosi. James dan Lange menyatakan bahwa perubahan fisiologis disebabkan oleh aktivitas sisitem saraf autonomic yang berlangsung terhadap dirasakannya emosi.
 Teori Emosi Oleh James Lange
Pada tahun 1884, William James mengemukakan pendapat bahw areaksi perbuatan dan perubahan-perubahan jasmaniah itu mendahului timbulnya reaksi perasaaan. Orang melihat harimau sesudah itu karena lari dan naiknya tekanan darah orang merasa takut. Hal ini lalu dikenal dengan teori james lange sebab seorang pshykolog Denmark bernama Karl Lange mempunyai gagasan yang sama pada waktu yang hamper bersamaan dengan William James. Jadi, perasaan emosional itu tidak bergantung pada sensasi-sensasi yang diterimanya dari dalam tubuh, perasaan mendahului aspek-aspek lain dari emosi, misalnya : seseorang merasa tertekan, lalu mungkin bunuh diri atau melakukan perbutan-perbuatan yang lain yang membahayakan atau bersifat kompensatoris. Kalau ditetrapkan pada teori James Lange akan berarti bahwa orang akan merasa tertekan setelah melakukan bunuh diri.
Apektivita pshykology member nama afektivitas kepada dimensi perasaan yang dua ujungnya berupa senang atau tidak senang. Bagaimana kita menetapkan kekuatan afektiv bergantung pada keadaan organic kita. Anak yang lapar akan menilai tinggi seteguk air susu, sedangkan anak yang kenyang menilainya lebih rendah.
Keadaan – keadaan affektif kesan-kesan sensoris juga bermacam-macam sesuai dengan berulang-ulang dan intensitas stimulus. Lagu yang selalu diulang-ulang akan tidak lagi menimbulkan kesan yang positif. Air yang sedikit asin memberi kesan netral atau sedikit menyenangkan, air yang lebih asin member kesan menyenangkan tetapi air yang sangat mengasinkan member kesan tidak menyenangkan kekuatan affektif yerasaan. Tidak ada perasaan emosional yang mempunyai kekuatan affektif yang tetap. Marah misalnya, kadang menyenangkan kadang tidak. Demikian juga tidak ada kesan sensoris yang mesti menimbulkan perasaan emosional tertentu. Perasaan tidak bergantung pada sensasi, juga tidak pada persepsi tetapi pada konsepsi.
Emosi adalah reaksi terhadap situasi total pada satu saat, karena itu kekuatan affektif perasaan emosional bergantung pada seluruh stimulus dan bukan hanya pada kekuatan affektifnya.



 Teori Emosi Dari W. Cannon



Cannon berpendapat bahwa perubahan fisiologis benar-benar menyiapkan seseorang untuk bertindak dan tidak memainkan bagian apapun didalam merasakan emosi.
Teori yang berlaku sekarang mengakui peranan sistem saraf autonomic, baik didalam menentukan dirasakannya emosi maupun sampai seberapa jauh sistem saraf tersebut bertanggung jawab didalam memastikan kapasitor badan pada mereaksikan keadaan yang mengancam. Agaknya, pemikiran yang terakhir ini merupakan modifikasi dari teori James Lange, dalam hal pengakuan mengenai peranan kebangsutan didalam derajat dirasakannya emosi, namun dengan mengkombinasikannya dengan interpretasi baik faktor internal maupun faktor eksternal, yang dilakukan oleh otak, untuk menentukan tipe perasaan.
4. Prilaku Ekspresif





5. Kognitif dan Apektif
 Kognitif
Kognitif ialah segenap gejala yang terdapat dalam kejiwaan kita sebagai hasil dari pengenalan. Kita bisa mendengar suara, melihat cahaya, menyimpan satu kenangan dan mengingatnya kembali, menemukan suatu kebenaran, semua itu adalah pengenalan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar